Alhamdulillah.. saya sempat menginjakkan kaki di Kota Pontianak. Kalau pergi ke kota ini mungkin belum lengkap sebelum pergi ke Tugu Pahlawan, ups.. maaf Tugu Khatulistiwa maksudnya, hehe.. Kota Pontianak memang juga dikenal dengan Kota Khatulistiwa, karena di kota ini dilalui garis lintang nol derajat, oleh karena itu dintadai dengan Tugu Khatulistiwa. Dan saya juga sempat berkunjung di tempat ini.
Bicara soal kuliner, ada satu makanan yang sangat terkenal di kota ini, yaitu pengkang. Mungkin nama yang agak aneh ya, tapi rasanya jangan ditanya lagi, uenaakk poll.. sebenarnya makanan ini tak jauh beda dengan lemper dari daerah Jawa. Tapi isi dari pengkang ini adalah udang kering atau ebi. Biasanya makan pengkang ini sambil diococol dengan sambel. Wuih gurih banget pastinya..
Jika ingin makan makanan khas Pontianak ini, tempat yang terkenal adalah Pondok Pengkang di jalan raya peniti, letaknya tepat di tepi jalan raya ke arah kota Singkawang dari Pontianak. Di tempat makan ini terdapat lukisan di tembok yang mendeskripsikan orang yang sedang membuat pengkang.
Setelah Anda menikmati makanan khas Pontianak dan tenggorokan mulai haus, jangan sampai lupa juga untuk merasakan minuman khas Pontianak, yaitu minuman lidah buaya. Tanaman lidah buaya memang sangat terkenal di kota ini karena tekstur tanah yang sangat cocok untuk tanaman ini. Tanah di Pontianak merupakan tanah gambut yang terbentuk dari kumpulan sisa-sisa tumbuhan yang membusuk. Maka jangan heran jika lidah buaya disini besar sekali. Minuman ini selain segar juga mengandung zat gizi yang bagus. Minuman ini disajikan di warung-warung kecil di pinggir jalan.
Akhirnya, selamat menikmati Kota Pontianak.
Showing posts with label Jelajah Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Jelajah Nusantara. Show all posts
Tuesday, December 30, 2014
Wednesday, October 3, 2012
KOTA KUPANG
Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di Kupang, NTT. Kupang memiliki karakteristik tersendiri, yaitu wilayah yang kering dan panas. Namun demikian, Kupang bisa menjadi salah satu tujuan tempat wisata bagi Anda.
Salah satu tempat yang bisa Anda kunjungi ketika di Kupang adalah Pantai Lasiana. Pantai Lasiana berjarak kurang 12 Km dari pusat Kota Kupang. Pantai ini bisa ditempuh dengan mobil atau angkutan umum yang biasa disebut bemo. Untuk lebih hemat, Anda bisa naik bemo saja. Dengan bemo Anda cukup membayar Rp. 2.000,- saja. Kondisi jalan di Kupang pun juga masih lengang. Jadi sekalian Anda hemat, Anda juga bisa menikmati angkutan khas Kupang. Bemo di Kupang ini juga unik, penuh tempelan-tempelan yang menghiasi seluruh body mobil dan full music. Sebelum naik bemo, Anda pesan dulu ke sopir atau kernetnya untuk minta turun di Pantai Lasiana, supaya tidak kebablasan, hehe..
Setelah turun dari bemo, Anda bisa jalan sekitar 500 m atau naik ojek ke lokasi Pantai Lasiana. Sesampainya di Pantai Lasiana, Anda bisa menikmati keindahan, keunikan dan kesejukan pantai. Laut biru bersih terpampang luas. Hamparan pasir putih memecah ombak-ombak kecil di pinggir pantai. Dan yang membuat unik pantai ini adalah terdapatnya pohon lontar yang menjulang tinggi dan meneduhkan. Di jalan menuju pantai ini Anda dapat melihat penduduk sekitar membuat gula lempeng khas penduduk NTT. Gula lempeng dibuat dari air sadapan pohon lontar. Disini Anda juga bisa melihat sunrise dan sunset. Namun sayang pantai ini terlihat kurang terawat. Meskipun begitu, Pantai Lasiana tetap mempesona.
Setelah dari Pantai Lasiana, Anda juga bisa menikmati Pantai Ketapang atau Teluk Kupang. Teluk Kupang ini berada di Kota Kupang dan tepat berada di sebelah jalan raya. Jika sore hari, banyak warga sekitar yang datang di teluk ini untuk sekedar menikmati senja sore hari.
Ketika Anda di Kupang dan malam sudah tiba, jangan sampai Anda lewatkan untuk datang di pasar malam. Ya, “pasar malam” begitu warga lokal menyebut namanya. Tapi jangan salah jika di pasar malam ini tidak ada komedi putar, bianglala, kereta-keretaan dan permainan lainnya. Namun pasar malam ini adalah pasar yang khusus menjajakan makanan. Pasar malam ini terletak di Jalan Garuda setiap hari mulai jam 18.00 WITA sampai tengah malam. Jadi pasar malam ini menutup sepanjang jalan penuh. Jika datang ke pasar malam ini, Anda bisa ber-kuliner ria. Anda bisa menikmati sea food. Anda juga jangan kaget jika mendengar bahasa Jawa di pasar malam ini karena sebagian besar penjual di pasar malam ini adalah orang Jawa.
Setelah menikmati keindahan alam dan kuliner di Kupang, sebelum pulang Anda jangan lupa membawa oleh-oleh khas NTT. Jika Anda ingin membawa oleh-oleh yang halal, Anda dapat membelinya di Toko Ibu Soekiran di Jl. Moh. Hatta No. 16, Kupang. Walau sederhana tapi toko ini lengkap dan banyak dikunjungi wisatawan untuk membeli oleh-oleh atau warga sekitar untuk lauk pauk sehari-hari. Di toko ini Anda dapat membeli makanan khas NTT seperti se’i daging sapi, dendeng daging sapi, abon daging sapi, kripik paru sapi, jagung niti dan lain-lain.
Memang banga Indonesia memiliki keanekaragaman alam dan kuliner. Hal ini tentu patut kita syukuri dengan melesetarikannya dengan baik.
Salah satu tempat yang bisa Anda kunjungi ketika di Kupang adalah Pantai Lasiana. Pantai Lasiana berjarak kurang 12 Km dari pusat Kota Kupang. Pantai ini bisa ditempuh dengan mobil atau angkutan umum yang biasa disebut bemo. Untuk lebih hemat, Anda bisa naik bemo saja. Dengan bemo Anda cukup membayar Rp. 2.000,- saja. Kondisi jalan di Kupang pun juga masih lengang. Jadi sekalian Anda hemat, Anda juga bisa menikmati angkutan khas Kupang. Bemo di Kupang ini juga unik, penuh tempelan-tempelan yang menghiasi seluruh body mobil dan full music. Sebelum naik bemo, Anda pesan dulu ke sopir atau kernetnya untuk minta turun di Pantai Lasiana, supaya tidak kebablasan, hehe..
Setelah turun dari bemo, Anda bisa jalan sekitar 500 m atau naik ojek ke lokasi Pantai Lasiana. Sesampainya di Pantai Lasiana, Anda bisa menikmati keindahan, keunikan dan kesejukan pantai. Laut biru bersih terpampang luas. Hamparan pasir putih memecah ombak-ombak kecil di pinggir pantai. Dan yang membuat unik pantai ini adalah terdapatnya pohon lontar yang menjulang tinggi dan meneduhkan. Di jalan menuju pantai ini Anda dapat melihat penduduk sekitar membuat gula lempeng khas penduduk NTT. Gula lempeng dibuat dari air sadapan pohon lontar. Disini Anda juga bisa melihat sunrise dan sunset. Namun sayang pantai ini terlihat kurang terawat. Meskipun begitu, Pantai Lasiana tetap mempesona.
Setelah dari Pantai Lasiana, Anda juga bisa menikmati Pantai Ketapang atau Teluk Kupang. Teluk Kupang ini berada di Kota Kupang dan tepat berada di sebelah jalan raya. Jika sore hari, banyak warga sekitar yang datang di teluk ini untuk sekedar menikmati senja sore hari.
Ketika Anda di Kupang dan malam sudah tiba, jangan sampai Anda lewatkan untuk datang di pasar malam. Ya, “pasar malam” begitu warga lokal menyebut namanya. Tapi jangan salah jika di pasar malam ini tidak ada komedi putar, bianglala, kereta-keretaan dan permainan lainnya. Namun pasar malam ini adalah pasar yang khusus menjajakan makanan. Pasar malam ini terletak di Jalan Garuda setiap hari mulai jam 18.00 WITA sampai tengah malam. Jadi pasar malam ini menutup sepanjang jalan penuh. Jika datang ke pasar malam ini, Anda bisa ber-kuliner ria. Anda bisa menikmati sea food. Anda juga jangan kaget jika mendengar bahasa Jawa di pasar malam ini karena sebagian besar penjual di pasar malam ini adalah orang Jawa.
Setelah menikmati keindahan alam dan kuliner di Kupang, sebelum pulang Anda jangan lupa membawa oleh-oleh khas NTT. Jika Anda ingin membawa oleh-oleh yang halal, Anda dapat membelinya di Toko Ibu Soekiran di Jl. Moh. Hatta No. 16, Kupang. Walau sederhana tapi toko ini lengkap dan banyak dikunjungi wisatawan untuk membeli oleh-oleh atau warga sekitar untuk lauk pauk sehari-hari. Di toko ini Anda dapat membeli makanan khas NTT seperti se’i daging sapi, dendeng daging sapi, abon daging sapi, kripik paru sapi, jagung niti dan lain-lain.
Memang banga Indonesia memiliki keanekaragaman alam dan kuliner. Hal ini tentu patut kita syukuri dengan melesetarikannya dengan baik.
Wednesday, September 26, 2012
KOTA MEDAN
Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu saya sempat menginjakkan kaki di Kota Medan. Kota Medan dapat ditempuh sekitar 2 jam lebih perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta ke Bandara Internasional Polonia, Medan. Banadara internasional ini unik karena terletak di tengah kota berbeda dengan bandara-bandara lain yang ada di Indonesia.
Selimut gelap malam mulai terselingkap. Sinar mentari pun mulai membangunkan aktivitas kota. Lalu lalang kendaraan mulai memenuhi badan jalan. Pagi itu pun saya lebih memilih jalan kaki menelusuri beberapa ruas jalan Kota Medan. Memang sungguh luar biasa akan hiruk pikuknya Kota Medan. Kegiatan ekonomi, sosial, agama serta budaya, yang tidak hanya melibatkan satu etnis saja tapi multietnis yang bersatu padu membentuk sebuah ekosistem yang saling berkait. Masing-masing memiliki peranan dan fungsinya dalam membentuk struktur dan sistem kota.
Salah satu hal yang membuat saya tertarik di Kota Medan adalah banyak dijumpai bangunan ruko-ruko tua yang tegak berdiri di kanan-kiri sepanjang ruas jalan yang masih berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu untuk tempat tinggal dan tentunya untuk berdagang. Ketika kita melintas di sepanjang jalan bangunan-bangunan kuno ini seakan kita masuk dalam lorong waktu dan kembali ke masa lalu, wah lebay ya, hehe. Memang sangat unik. Hal ini tentu perlu tetap dilestarikan sebagai urban heritage yang sangat memungkinkan untuk dapat menarik minat wisatawan.
Berdasarkan sejarah, Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590. John Anderson, orang Eropa pertama yang mengunjungi Deli pada tahun 1833 menemukan sebuah kampung yang bernama Medan. Kampung ini berpenduduk 200 orang dan dinyatakan sebagai tempat kediaman Sultan Deli. Pada tahun 1883, Medan telah menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran.
Setelah mendokumentasikan ruko-ruko tua, akhirnya saya melanjutnya perjalanan saya di Kota Medan dengan kendaraan khas Kota Medan, “bentor” alias becak motor. Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Masjid Raya Medan.
Berdasarkan sejarah, masjid ini dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909. Gaya arsitekturnya khas Timur Tengah, India dan Spanyol. Masjid ini berbentuk segi delapan dengan atap berwarna hitam. Masjid ini kelihatan sangat unik dan menarik. Sungguh luar biasa!
Tak jauh dari Masjid Raya Medan ini, terdapat Istana Maimun. Berdasarkan sejarah, istana ini dibangun oleh Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada tahun 1888. Istana ini memiliki arsitektur melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia. Istana Maimun didominasi dengan warna kuning, warna khas melayu. Istana ini memiliki 2 lantai. Sayang pada waktu saya datang kesini masih tutup karena masih pagi sehingga tidak bisa masuk ke dalam. Istana ini terbuka untuk umum setiap hari jam 08.00 – 17.00. Jadi kalau Anda datang ke Kota Medan jangan sampai lupa datang ke Istana Maimun ini.
Sebelum meninggalkan Kota Medan, jangan sampai lupa membawa oleh-oleh khas Kota Medan, Bika Ambon Zulaikha yang ada di Jl. Majapahit No. 62 dan Bolu Meranti di Jl. Kruing No. 2-K. Dan juga kalau lagi musimmnya jangan sampai lupa makan durian Medan yang banyak dijual di pinggir jalan pada malam hari sambil bercengkerama. Nikmat banget deh pokoknya.
Memang hebatnya kualitas bangunan kuno yang pernah ada menunjukkan salah satu ciri tingginya peradaban bangsa Indonesia. Kita sebagai generasi penerus sudah selayaknya menjaga warisan yang sangat luar biasa tersebut, terlebih kita juga harus bisa meneladani setiap hikmah yang terkandung dibalik dinding bangunan-bangunan tersebut.
Selimut gelap malam mulai terselingkap. Sinar mentari pun mulai membangunkan aktivitas kota. Lalu lalang kendaraan mulai memenuhi badan jalan. Pagi itu pun saya lebih memilih jalan kaki menelusuri beberapa ruas jalan Kota Medan. Memang sungguh luar biasa akan hiruk pikuknya Kota Medan. Kegiatan ekonomi, sosial, agama serta budaya, yang tidak hanya melibatkan satu etnis saja tapi multietnis yang bersatu padu membentuk sebuah ekosistem yang saling berkait. Masing-masing memiliki peranan dan fungsinya dalam membentuk struktur dan sistem kota.
Salah satu hal yang membuat saya tertarik di Kota Medan adalah banyak dijumpai bangunan ruko-ruko tua yang tegak berdiri di kanan-kiri sepanjang ruas jalan yang masih berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu untuk tempat tinggal dan tentunya untuk berdagang. Ketika kita melintas di sepanjang jalan bangunan-bangunan kuno ini seakan kita masuk dalam lorong waktu dan kembali ke masa lalu, wah lebay ya, hehe. Memang sangat unik. Hal ini tentu perlu tetap dilestarikan sebagai urban heritage yang sangat memungkinkan untuk dapat menarik minat wisatawan.
Berdasarkan sejarah, Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590. John Anderson, orang Eropa pertama yang mengunjungi Deli pada tahun 1833 menemukan sebuah kampung yang bernama Medan. Kampung ini berpenduduk 200 orang dan dinyatakan sebagai tempat kediaman Sultan Deli. Pada tahun 1883, Medan telah menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran.
Setelah mendokumentasikan ruko-ruko tua, akhirnya saya melanjutnya perjalanan saya di Kota Medan dengan kendaraan khas Kota Medan, “bentor” alias becak motor. Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Masjid Raya Medan.
Berdasarkan sejarah, masjid ini dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909. Gaya arsitekturnya khas Timur Tengah, India dan Spanyol. Masjid ini berbentuk segi delapan dengan atap berwarna hitam. Masjid ini kelihatan sangat unik dan menarik. Sungguh luar biasa!
Tak jauh dari Masjid Raya Medan ini, terdapat Istana Maimun. Berdasarkan sejarah, istana ini dibangun oleh Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada tahun 1888. Istana ini memiliki arsitektur melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia. Istana Maimun didominasi dengan warna kuning, warna khas melayu. Istana ini memiliki 2 lantai. Sayang pada waktu saya datang kesini masih tutup karena masih pagi sehingga tidak bisa masuk ke dalam. Istana ini terbuka untuk umum setiap hari jam 08.00 – 17.00. Jadi kalau Anda datang ke Kota Medan jangan sampai lupa datang ke Istana Maimun ini.
Sebelum meninggalkan Kota Medan, jangan sampai lupa membawa oleh-oleh khas Kota Medan, Bika Ambon Zulaikha yang ada di Jl. Majapahit No. 62 dan Bolu Meranti di Jl. Kruing No. 2-K. Dan juga kalau lagi musimmnya jangan sampai lupa makan durian Medan yang banyak dijual di pinggir jalan pada malam hari sambil bercengkerama. Nikmat banget deh pokoknya.
Memang hebatnya kualitas bangunan kuno yang pernah ada menunjukkan salah satu ciri tingginya peradaban bangsa Indonesia. Kita sebagai generasi penerus sudah selayaknya menjaga warisan yang sangat luar biasa tersebut, terlebih kita juga harus bisa meneladani setiap hikmah yang terkandung dibalik dinding bangunan-bangunan tersebut.
Wednesday, August 15, 2012
KOTA MANADO & WISATA BUNAKEN
Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu saya sempat ke Kota Manado, ibu kota dari Provinsi Sulawesi Utara. Kota Manado terletak di ujung utara Pulau Sulawesi. Kota Manado dapat ditempuh dengan waktu 3,5 jam perjalanan dari Jakarta dengan menggunakan pesawat terbang.
Kota Manado sangat terkenal dengan Bunaken. Ada yang bilang “Belum pernah ke Manado kalau belum ke Bunaken.” Ya, Bunaken. Siapa yang belum pernah dengar Bunaken? Bunaken merupakan sebuah pulau di Kota Manado yang terkenal dengan taman lautnya yang berada di sekitar pulau tersebut dan merupakan bagian dari Taman Nasional Bunaken. Bunaken sangat cocok untuk snorkling atau menyelam. Bunaken memiliki pemandangan bawah laut yang sungguh sangat luar biasa, air laut yang jernih dimana sinar sang mentari bisa menembus hingga ke lekukan-lekukan terumbu karang di dasar laut yang dangkal, ikan warna-warni pun bergoyang-goyang bak penari dengan penuh keriangan menikmati indahnya alam. Subhanallah.. Sungguh luar biasa.
Bila ingin ke Bunaken, pastikan pada waktu yang tepat, yaitu jangan pada musim hujan. Jika Anda kesana pada musim hujan maka bisa jadi niat Anda tinggal kenangan saja karena penyeberangan ke Bunaken tergantung pada cuaca. Jika cuaca buruk maka kapal-kapal tidak berani menyeberanga kesana. Alhamdulillah waktu saya kesana cuaca sedang bersahabat. Ada banyak alternatif untuk menyeberang ke Bunaken karena ada banyak pelabuhan yang memberikan pelayanan penyeberangan kesana.
Setelah semuanya siap, Anda naik kapal dan akan dipandu oleh nahkoda kapal untuk menuju titik-titik yang dapat digunakan untuk snorkling, biasanya yang arusnya tidak deras, terdapat banyak terumbu karang dan ikan warna-warni, serta tentunya yang dangkal.
Blurrr...!!!! Akhirnya petualangan snorkling Anda dimulai. Sensasi snorkling hanya dapat Anda rasakan sendiri tanpa dapat diungkapkan dengan kata-kata, hehe..
Subhanallah.. Memang luar biasa! Inilah salah satu keindahan alam Indonesia yang harus kita syukuri dan kita berdayakan untuk kemaslahatan semuanya.
Kota Manado sangat terkenal dengan Bunaken. Ada yang bilang “Belum pernah ke Manado kalau belum ke Bunaken.” Ya, Bunaken. Siapa yang belum pernah dengar Bunaken? Bunaken merupakan sebuah pulau di Kota Manado yang terkenal dengan taman lautnya yang berada di sekitar pulau tersebut dan merupakan bagian dari Taman Nasional Bunaken. Bunaken sangat cocok untuk snorkling atau menyelam. Bunaken memiliki pemandangan bawah laut yang sungguh sangat luar biasa, air laut yang jernih dimana sinar sang mentari bisa menembus hingga ke lekukan-lekukan terumbu karang di dasar laut yang dangkal, ikan warna-warni pun bergoyang-goyang bak penari dengan penuh keriangan menikmati indahnya alam. Subhanallah.. Sungguh luar biasa.
Bila ingin ke Bunaken, pastikan pada waktu yang tepat, yaitu jangan pada musim hujan. Jika Anda kesana pada musim hujan maka bisa jadi niat Anda tinggal kenangan saja karena penyeberangan ke Bunaken tergantung pada cuaca. Jika cuaca buruk maka kapal-kapal tidak berani menyeberanga kesana. Alhamdulillah waktu saya kesana cuaca sedang bersahabat. Ada banyak alternatif untuk menyeberang ke Bunaken karena ada banyak pelabuhan yang memberikan pelayanan penyeberangan kesana.
Setelah semuanya siap, Anda naik kapal dan akan dipandu oleh nahkoda kapal untuk menuju titik-titik yang dapat digunakan untuk snorkling, biasanya yang arusnya tidak deras, terdapat banyak terumbu karang dan ikan warna-warni, serta tentunya yang dangkal.
Blurrr...!!!! Akhirnya petualangan snorkling Anda dimulai. Sensasi snorkling hanya dapat Anda rasakan sendiri tanpa dapat diungkapkan dengan kata-kata, hehe..
Subhanallah.. Memang luar biasa! Inilah salah satu keindahan alam Indonesia yang harus kita syukuri dan kita berdayakan untuk kemaslahatan semuanya.
Monday, April 30, 2012
KOTA BENGKULU
Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu saya sempat menginjakkan kaki di Kota Bangkulu, Provinsi Bengkulu. Kota Bengkulu dapat ditempuh dalam 2 jam perjalanan naik pesawat dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta ke Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu.
Waktu di Bengkulu saya sempat pergi ke Banteng Marlborough. Benteng ini peninggalan Inggris yang didirikan tahun 1713 - 1719. Ini salah satu benteng ketika Inggris kali pertama datang di indonesia. Benteng ini dibuat terlihat di permukaan tanah, padahal sekali lagi ini kali pertama Inggris datang di Indonesia. Hal ini membuktikan Inggris sudah “berani” memunculkan dirinya. Tentu berbeda dengan Jepang, Jepang membangun benteng dengan cara membuat lubang masuk ke dalam perut bumi sehingga tidak terlihat di permukaan. Coba kira-kira kenapa kok bisa seperti ini? Ya. Hal ini menunjukkan kadar kemajuan kedua negara pada saat itu, baik kemajuan terkait teknik bangunan ataupun teknik perang. Inggris telah mampu membuat bangunan dengan kuat dan memiliki struktur yang kuat. Sementara Jepang masih belum memiliki kemampuan itu. Selain itu, bisa jadi juga karena kekuatan tentara Inggris sudah hebat sehingga sudah berani duel ketika tempat persembunyiannya diketahui. Sementara kekuatan tentara Jepang masih belum siap untuk bertempur langsung.
Dipilih bengkulu sebagai pintu masuk ke nusantara karena pada masa itu bentangan pantai di Bengkulu masih berupa hutan dan karang-karang terjal, sehingga sepi dan tentunya luput dari jangkauan kerajaan Sriwijaya dan Padang. Namun ada hal yang lepas dari perhitungan Inggris, yaitu wabah malaria. Bak gajah mati karena semut, pasukan Inggris yang kuat dan perkasa kalah bukan karena pertempuran tapi karena adanya wabah malaria. Banyak pasukan Inggris yang mati. Demikian kata dari guide-nya. Benteng Marlborough terletak tepat di pinggir Pantai Panjang yang terkenal eksotik. Waktu saya kesana benteng sangat terawat dan terlihat bersih. Bicara terkait Pantai Panjang, pantai ini memang memanjang sekitar 7 km. Pohon cemara yang rindang menghiasi sepanjang pantai. Namun sayang sebagian besar pantai ini tidak bisa dipakai untuk berenang karena dasarnya berupa karang.
Masih terkait sejarah, pada tahun 1930-an, Bengkulu menjadi tempat pembuangan sejumlah aktivis pendukung kemerdekaan. Pada zaman koloni Belanda (1939-1942), Soekarno pernah diasingkan di Bengkulu. Selama dalam pengasingan Soekarno tinggal di rumah yang beralamat di Anggut Atas, sekarang dikenal dengan Jalan Soekarno-Hatta. Beberapa peralatan, sepeda, perpustakaan buku-buku dan yang lainnya yang pernah dimiliki oleh Soekarno disimpan di dalam rumah ini. Rumah ini sekarang masih ada dan menjadi museum. Selama tinggal di Bengkulu, Soekarno mendesain masjid, yang sekarang dikenal dengan Masjid Jamik. Di sinilah Sukarno berkenalan dengan Fatmawati yang kelak menjadi istrinya. Wah ada aja ya jalan cinta itu, hehe.
Demikian perjalanan singkat di Bengkulu. Sebelum pulang jangan lupa membeli oleh-oleh batik khas Bengkulu. Saya juga sudah punya, ups. Memang tak ada alasan untuk kita tak bersyukur hidup di Indonesia, keindahan dan kekayaan alam berlimpah sejauh mata memandang. Mari kita jaga dan lestarikan. Semoga kekayaan alam Indonesia juga bisa mengkayakan moralitas dan spiritual bangsa Indonesia. Amin.
Waktu di Bengkulu saya sempat pergi ke Banteng Marlborough. Benteng ini peninggalan Inggris yang didirikan tahun 1713 - 1719. Ini salah satu benteng ketika Inggris kali pertama datang di indonesia. Benteng ini dibuat terlihat di permukaan tanah, padahal sekali lagi ini kali pertama Inggris datang di Indonesia. Hal ini membuktikan Inggris sudah “berani” memunculkan dirinya. Tentu berbeda dengan Jepang, Jepang membangun benteng dengan cara membuat lubang masuk ke dalam perut bumi sehingga tidak terlihat di permukaan. Coba kira-kira kenapa kok bisa seperti ini? Ya. Hal ini menunjukkan kadar kemajuan kedua negara pada saat itu, baik kemajuan terkait teknik bangunan ataupun teknik perang. Inggris telah mampu membuat bangunan dengan kuat dan memiliki struktur yang kuat. Sementara Jepang masih belum memiliki kemampuan itu. Selain itu, bisa jadi juga karena kekuatan tentara Inggris sudah hebat sehingga sudah berani duel ketika tempat persembunyiannya diketahui. Sementara kekuatan tentara Jepang masih belum siap untuk bertempur langsung.
Dipilih bengkulu sebagai pintu masuk ke nusantara karena pada masa itu bentangan pantai di Bengkulu masih berupa hutan dan karang-karang terjal, sehingga sepi dan tentunya luput dari jangkauan kerajaan Sriwijaya dan Padang. Namun ada hal yang lepas dari perhitungan Inggris, yaitu wabah malaria. Bak gajah mati karena semut, pasukan Inggris yang kuat dan perkasa kalah bukan karena pertempuran tapi karena adanya wabah malaria. Banyak pasukan Inggris yang mati. Demikian kata dari guide-nya. Benteng Marlborough terletak tepat di pinggir Pantai Panjang yang terkenal eksotik. Waktu saya kesana benteng sangat terawat dan terlihat bersih. Bicara terkait Pantai Panjang, pantai ini memang memanjang sekitar 7 km. Pohon cemara yang rindang menghiasi sepanjang pantai. Namun sayang sebagian besar pantai ini tidak bisa dipakai untuk berenang karena dasarnya berupa karang.
Masih terkait sejarah, pada tahun 1930-an, Bengkulu menjadi tempat pembuangan sejumlah aktivis pendukung kemerdekaan. Pada zaman koloni Belanda (1939-1942), Soekarno pernah diasingkan di Bengkulu. Selama dalam pengasingan Soekarno tinggal di rumah yang beralamat di Anggut Atas, sekarang dikenal dengan Jalan Soekarno-Hatta. Beberapa peralatan, sepeda, perpustakaan buku-buku dan yang lainnya yang pernah dimiliki oleh Soekarno disimpan di dalam rumah ini. Rumah ini sekarang masih ada dan menjadi museum. Selama tinggal di Bengkulu, Soekarno mendesain masjid, yang sekarang dikenal dengan Masjid Jamik. Di sinilah Sukarno berkenalan dengan Fatmawati yang kelak menjadi istrinya. Wah ada aja ya jalan cinta itu, hehe.
Demikian perjalanan singkat di Bengkulu. Sebelum pulang jangan lupa membeli oleh-oleh batik khas Bengkulu. Saya juga sudah punya, ups. Memang tak ada alasan untuk kita tak bersyukur hidup di Indonesia, keindahan dan kekayaan alam berlimpah sejauh mata memandang. Mari kita jaga dan lestarikan. Semoga kekayaan alam Indonesia juga bisa mengkayakan moralitas dan spiritual bangsa Indonesia. Amin.
Wednesday, September 21, 2011
KOTA BUKITTINGGI
Alhamdulillah saya sempat bersinggah di Kota Bukittinggi pada Bulan Agustus 2011 lalu, kota yang sangat luar biasa. Banyak hal ada disini mulai dari situs sejarah, keindahan alam sampai wisata belanja. Kota Bukittinggi terletak di Provinsi Sumatera Barat, yang berjarak 91 km dari Kota Padang atau sekitar 2 jam perjalanan jika ditempuh dengan mobil.
Jangan khawatir, 2 jam di perjalanan tidak akan membuat kamu boring karena sepanjang jalan sangat excited. Jalan berbukit dan agak berkelok serta diapit dengan hutan-hutan nan hijau yang kadang diselingi rumah-rumah penduduk. Saat kita mulai lelah di tengah perjalanan, nanti kita akan disemangati oleh keindahan Air Terjun Lembah Anai yang terletak tepat di pinggir jalan Kota Padang – Kota Bukittinggi. Jika kita ingin masuk, jangan lupa membayar tiket hanya Rp 2.000,00 saja. Hmm, pancaran pesona air terjun dengan ditambah bentangan jembatan rel kereta api di atas jalan raya nan eksostik akan membuat kita tak sabar lagi untuk segera sampai di Kota Bukittinggi. Yuk kita lanjutkan perjalanan!
Sesampainya di Kota Bukittinggi, kira-kira hal apa yang ingin kita ketahui? Yup betul, jam gadang! Jam Gadang adalah icon Kota Bukittinggi yang terletak sebagai landmark di tengah kota. Kita tak usah bingung-bingung mencarinya, karena sudah kelihatan dari kejauhan karena bangunannya yang tinggi. Jam besar adalah arti dari jam gadang dalam Bahasa Minangkabau. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan Gigi Ameh. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur (Sekretaris Kota) Bukittinggi pada masa Pemerintahan Hindia Belanda dulu. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Pada awalnya puncak menara jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Saat masuk menjajah Indonesia, pemerintahan pendudukan Jepang mengubah puncak itu menjadi berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau seperti sekarang ini, lebih bagus kan! Pembangunan Jam Gadang ini konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden. Waw..! biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Jam gadang ini tetap kokoh tegak berdiri pada saat Kota Padang dilanda gempa bumi pada akhir September 2009 silam walau terdapat keretakan di beberapa sudut bangunan.
Kalau kita bicara tentang Kota Bukittinggi memang tidak ada habisnya. Baik, untuk mengetes tingkat nasionalisme kamu coba tebak dimana Bung Hatta dilahirkan? Yup betul bagi yang jawab Kota Bukittingi. Disinilah Sang Proklamator Bung Hatta dilahirkan pada tanggal 12 Agustus 1902. Makanya di kota ini dibangun Taman Monumen Bung Hatta. Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia pun, Kota Bukittinggi juga tak luput dari peranan perjuangannya dimana pada tanggal 19 Desember 1948, kota ini ditunjuk sebagai ibukota negara Indonesia setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda atau dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Dikemudian hari, peristiwa ini ditetapkan sebagai Hari Bela Negara, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2006 tanggal 18 Desember 2006.
Masih berbicara tentang sejarah perjuangan Indonesia, di Kota Bukittinggi juga terdapat Lubang Jepang, sebuah lubang mirip gua yang mnjorok ke dlam perut bumi yang dibangun oleh Jepang untuk kepentingan pertahanan. Lubang Jepang dibangun sekitar tahun 1942 dengan panjang terowongan yang mencapai 1400 m dan berkelok-kelok serta memiliki lebar sekitar 2 meter. Sejumlah ruangan khusus terdapat di terowongan ini, di antaranya adalah ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara dan gudang senjata. Berdasarkan guide yang mendampingi saya masuk ke dalamnya, dinding Lubang Jepang yang hanya berasal dari tanah liat jika terkena air malah justru akan semakin kuat. Dinding-dinding lubang dibuat lubang berkerut beraturan, untuk apa coba? Supaya tidak terjadi gema di dalam lubang. Namun ada dua pertanyaan yang belum terjawab sampai sekarang; pertama, berapa orang romusha yang tewas dalam pembangunan Lubang Jepang ini. Coba kita bayangkan, membuat lubang selokan aja dikerjakan banyak orang dan butuh waktu lama, apalagi Lubang Jepang ini dan para pekerjanya jangankan diberi upah, diberi makan aja sudah beruntung, ya namanya kerja paksa. Pertanyaan kedua, dimana tanah hasil pengerukan Lubang Jepang ini? Jika kita mengeruk tanah pasti ada tanah hasil kerukan, jika lubang sepanjang 1400 m dan lebar 2 meter tentu hasil kerukannya banyak donk. Nah, jika kamu berhasil menemukan jawaban dari dua pertanyaan itu kamu bisa kirim jawabannya ke alamat redaksi, hehe kok dari tadi ngasih pertanyaan terus.
Selanjutnya kita akan melihat keindahan alam Kota Bukittinggi. Coba siapa yang tidak tau Ngarai Sianok? Jangan sampai mengacungkan tangan ya karena pemandangan alam nan menakjubkan ini juga pernah menjadi gambar di lembaran mata uang seribu rupiah jaman dulu, kalau tidak percaya coba cari uang seribu rupiah jaman dulu dan cek deh, hehe. Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) hasil patahan kulit bumi yang dindingnya tegak lurus yang dalam jurangnya sekitar 100 m, membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m. Ngarai Sianok sudah kelihatan ketika kita akan memasuki Lubang Jepang, karena letaknya berdekatan. Bahkan Lubang Jepang ada yang tembus ke lembah di Ngarai Sianok. Katanya sebagai tempat untuk pembuangan mayat. Hih serem ya. Di bagian lembah Ngarai Sianok biasanya ada air yang jernih, namun pada waktu saya kesana lagi musim kemarau jadi pas mengering. Seandainya ada kereta gantung yang bisa menghubungkan antar dinding maka kita bisa melihat keindahan bentang alam Ngarai Sianok dari atas. Wuih, betapa indah nusantaraku..!
O iya, sebelum pulang jangan lupa membeli cendera mata untuk kenang-kenangan. Kota Bukittinggi terkenal dengan kerajinan bordir, ada bordir jilbab, mukena ataupun sarung. Harganya tentu bisa dijangkau dan juga bisa ditawar karena letaknya bukan di mall tapi di pasar, tepatnya di Pasar Ateh, letaknya berdekatan dengan Jam Gadang. Saya dulu beli sarung dua buah, hehe.
Memang tak ada alasan untuk kita tak bersyukur hidup di Indonesia, keindahan dan kekayaan alam berlimpah sejauh mata memandang. Mari kita jaga dan lestarikan. Semoga kekayaan alam Indonesia juga bisa mengkayakan moralitas dan spiritual bangsa Indonesia. Amin.
Jangan khawatir, 2 jam di perjalanan tidak akan membuat kamu boring karena sepanjang jalan sangat excited. Jalan berbukit dan agak berkelok serta diapit dengan hutan-hutan nan hijau yang kadang diselingi rumah-rumah penduduk. Saat kita mulai lelah di tengah perjalanan, nanti kita akan disemangati oleh keindahan Air Terjun Lembah Anai yang terletak tepat di pinggir jalan Kota Padang – Kota Bukittinggi. Jika kita ingin masuk, jangan lupa membayar tiket hanya Rp 2.000,00 saja. Hmm, pancaran pesona air terjun dengan ditambah bentangan jembatan rel kereta api di atas jalan raya nan eksostik akan membuat kita tak sabar lagi untuk segera sampai di Kota Bukittinggi. Yuk kita lanjutkan perjalanan!
Sesampainya di Kota Bukittinggi, kira-kira hal apa yang ingin kita ketahui? Yup betul, jam gadang! Jam Gadang adalah icon Kota Bukittinggi yang terletak sebagai landmark di tengah kota. Kita tak usah bingung-bingung mencarinya, karena sudah kelihatan dari kejauhan karena bangunannya yang tinggi. Jam besar adalah arti dari jam gadang dalam Bahasa Minangkabau. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan Gigi Ameh. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur (Sekretaris Kota) Bukittinggi pada masa Pemerintahan Hindia Belanda dulu. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Pada awalnya puncak menara jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Saat masuk menjajah Indonesia, pemerintahan pendudukan Jepang mengubah puncak itu menjadi berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau seperti sekarang ini, lebih bagus kan! Pembangunan Jam Gadang ini konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden. Waw..! biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Jam gadang ini tetap kokoh tegak berdiri pada saat Kota Padang dilanda gempa bumi pada akhir September 2009 silam walau terdapat keretakan di beberapa sudut bangunan.
Kalau kita bicara tentang Kota Bukittinggi memang tidak ada habisnya. Baik, untuk mengetes tingkat nasionalisme kamu coba tebak dimana Bung Hatta dilahirkan? Yup betul bagi yang jawab Kota Bukittingi. Disinilah Sang Proklamator Bung Hatta dilahirkan pada tanggal 12 Agustus 1902. Makanya di kota ini dibangun Taman Monumen Bung Hatta. Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia pun, Kota Bukittinggi juga tak luput dari peranan perjuangannya dimana pada tanggal 19 Desember 1948, kota ini ditunjuk sebagai ibukota negara Indonesia setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda atau dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Dikemudian hari, peristiwa ini ditetapkan sebagai Hari Bela Negara, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2006 tanggal 18 Desember 2006.
Masih berbicara tentang sejarah perjuangan Indonesia, di Kota Bukittinggi juga terdapat Lubang Jepang, sebuah lubang mirip gua yang mnjorok ke dlam perut bumi yang dibangun oleh Jepang untuk kepentingan pertahanan. Lubang Jepang dibangun sekitar tahun 1942 dengan panjang terowongan yang mencapai 1400 m dan berkelok-kelok serta memiliki lebar sekitar 2 meter. Sejumlah ruangan khusus terdapat di terowongan ini, di antaranya adalah ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara dan gudang senjata. Berdasarkan guide yang mendampingi saya masuk ke dalamnya, dinding Lubang Jepang yang hanya berasal dari tanah liat jika terkena air malah justru akan semakin kuat. Dinding-dinding lubang dibuat lubang berkerut beraturan, untuk apa coba? Supaya tidak terjadi gema di dalam lubang. Namun ada dua pertanyaan yang belum terjawab sampai sekarang; pertama, berapa orang romusha yang tewas dalam pembangunan Lubang Jepang ini. Coba kita bayangkan, membuat lubang selokan aja dikerjakan banyak orang dan butuh waktu lama, apalagi Lubang Jepang ini dan para pekerjanya jangankan diberi upah, diberi makan aja sudah beruntung, ya namanya kerja paksa. Pertanyaan kedua, dimana tanah hasil pengerukan Lubang Jepang ini? Jika kita mengeruk tanah pasti ada tanah hasil kerukan, jika lubang sepanjang 1400 m dan lebar 2 meter tentu hasil kerukannya banyak donk. Nah, jika kamu berhasil menemukan jawaban dari dua pertanyaan itu kamu bisa kirim jawabannya ke alamat redaksi, hehe kok dari tadi ngasih pertanyaan terus.
Selanjutnya kita akan melihat keindahan alam Kota Bukittinggi. Coba siapa yang tidak tau Ngarai Sianok? Jangan sampai mengacungkan tangan ya karena pemandangan alam nan menakjubkan ini juga pernah menjadi gambar di lembaran mata uang seribu rupiah jaman dulu, kalau tidak percaya coba cari uang seribu rupiah jaman dulu dan cek deh, hehe. Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) hasil patahan kulit bumi yang dindingnya tegak lurus yang dalam jurangnya sekitar 100 m, membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m. Ngarai Sianok sudah kelihatan ketika kita akan memasuki Lubang Jepang, karena letaknya berdekatan. Bahkan Lubang Jepang ada yang tembus ke lembah di Ngarai Sianok. Katanya sebagai tempat untuk pembuangan mayat. Hih serem ya. Di bagian lembah Ngarai Sianok biasanya ada air yang jernih, namun pada waktu saya kesana lagi musim kemarau jadi pas mengering. Seandainya ada kereta gantung yang bisa menghubungkan antar dinding maka kita bisa melihat keindahan bentang alam Ngarai Sianok dari atas. Wuih, betapa indah nusantaraku..!
O iya, sebelum pulang jangan lupa membeli cendera mata untuk kenang-kenangan. Kota Bukittinggi terkenal dengan kerajinan bordir, ada bordir jilbab, mukena ataupun sarung. Harganya tentu bisa dijangkau dan juga bisa ditawar karena letaknya bukan di mall tapi di pasar, tepatnya di Pasar Ateh, letaknya berdekatan dengan Jam Gadang. Saya dulu beli sarung dua buah, hehe.
Memang tak ada alasan untuk kita tak bersyukur hidup di Indonesia, keindahan dan kekayaan alam berlimpah sejauh mata memandang. Mari kita jaga dan lestarikan. Semoga kekayaan alam Indonesia juga bisa mengkayakan moralitas dan spiritual bangsa Indonesia. Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)





