Alhamdulillah diberi kesempatan untuk dapat menginjakkan kaki di negeri gajah putih Thailand dalam rangka workshop. Saya mengikuti workshop selama dua pekan, dimana hal ini akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat menarik dan mendatangkan banyak manfaat. Selain mengikuti workshop, saya juga sempat melihat-lihat sebagian sudut Kota Bangkok. Secara umum tidak jauh berbeda antara Kota Bangkok dengan ibu kota negara Indonesia, Jakarta, kecuali tulisannya saja. Ya, tulisan. Di Thailand menggunakan bahasa Thai dengan hurufnya yang khas. Sebagian besar papan informasi ditulis dengan huruf ini dan kadang ada versi bahasa Inggris-nya. Kalau tidak ada versi Inggris-nya memang sangat membingungkan, mengejanya pun tidak bisa. Kalau dilihat secara sekilas tulisannya seperti Aksara Jawa. Bagi orang Jawa mungkin sudah bisa membayangkannya.
Ketika di Thailand, kita harus hati-hati dalam membeli makanan, khususnya bagi yang muslim, karena dikhawatirkan di dalam makanan tersebut tercampuri bahan-bahan yang tidak boleh dimakan, dimana sebagaian besar penduduk Thailand adalah beragama Budha. Bukannya SARA lho ya, kita hanya menghindari hal yang subhat. Pada saat itu, makan pagi sudah disediakan di hotel jadi kita bisa memilih dan memilah makanan. Ketika waktu makan siang tiba, makanan sudah disediakan oleh panitia workshop dan makanan dibedakan. Sementara pada waktu malam, hiks.., kita harus beli sendiri. Dan akhirnya seperti inilah menu makan malam saya selama di Thailand.
Pada saat “jam kosong”, saya berkesempatan pergi ke Chatuchak Weekend Market. Tempat ini merupakan salah satu destinasi belanja di Bangkok dan katanya juga merupakan salah satu tempat wisata belanja yang paling besar di Asia Tenggara. Disini kita bisa membeli cinderamata khas Thailand, biasanya yang sering dibeli adalah tas yang ada gambar gajahnya, kaos dengan tulisan Thailand dan gambar gajah, gantungan kunci, dll. Barang-barang tersebut dijual di gerai-gerai kecil yang tersebar di lokasi ini. Chatuchak sudah sangat terkenal dan ketika kita datang kesini bisa jadi akan ketemu orang Indonesia yang sedang belanja juga. Bahkan beberapa pedagang bisa bahasa Indonesia, mungkin karena sering bertransaksi dengan orang Indonesia ya..hehe.
Jika Anda masih belum puas belanja disini, karena hanya buka di akhir pekan saja dan hanya dari pagi sampai sore saja, Anda bisa melanjutkan hasrat belanja di Mah Boon Krong. Susah ya nyebutnya? Tempat ini memang familiar dengan sebutan MBK. Di lantai 6, Anda bisa menjumpai gerai-gerai kecil seperti di Chatuchak yang menjual pernak-pernik khas Thailand, hanya saja yang ini letaknya di dalam mall. Namun jangan kuatir, Anda masih bisa menawar saat belanja di sini, ups.. MBK buka setiap hari dari pagi sampai malam. Dan saya juga ke sini, hehe.
Ketika perut mulai menuntut haknya, kita bisa membeli makanan di Platinum Food Center. Tempat ini beda gedung tapi masih dalam satu kawasan dengan MBK. Di food court ini menggunakan sistem kartu, jadi transaksi tunai hanya pada saat masuk ke food court atau kalau sudah selesai makan dan masih terdapat sisa nominal uang di dalam kartu tersebut.
Masih di pusat kota Bangkok, kita juga bisa mengunjungi Jim Thompson House Museum. Konon katanya Jim Thompson adalah pengusaha sutera dari Amerika yang tinggal di tempat ini yang akhirnya dijadikan museum. Dia juga hobi mengoleksi bahan-bahan antik dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia. Disini kita juga bisa melihat rumah dengan arsitektur Thailand.
Mumpung di Bangkok, Anda juga jangan sampai lupa untuk naik MRT (Mass Rapid Transportation). Ketika di Jakarta masih bermimpi untuk membangun MRT, di Bangkok sudah ada terlebih dahulu, tapi kurang tau pasti kapan mulai ada. Pada saat peak hour, jalan di Bangkok juga sama macetnya seperti Jakarta, namun MRT ini bisa menjadi salah satu alternatif. Sistem tiket kurang lebih sama seperti naik KRL di Jakarta, namun disini bentuknya seperti koin. Mungkin akan menjadi pengalaman tersendiri ketika kita naik kereta bawah tanah ini. Saya ke Chatuchak dan MBK dengan moda transportasi ini.
Selain itu, Anda juga jangan ketinggalan untuk naik boat. Ya, naik boat di sungai di Bangkok. Kota Bangkok memang merupakan kota metropolitan namun lingkungan, termasuk sungai, masih dijaga kelestariannya. Transportasi air sangat diperhitungkan di kota ini. Hal ini mungkin bisa di contoh oleh Jakarta ya. Kalau “hanya” dengan larangan membuang sampah di sungai tidak digubris, maka sungai perlu di buat begitu berarti, salah satunya dibuat jalur transportasi, sehingga masyarakat bisa sadar dengan sendirinya dan akhirnya akan turut menjaga kelestariannya.
Wednesday, January 21, 2015
Tuesday, December 30, 2014
KOTA PONTIANAK
Alhamdulillah.. saya sempat menginjakkan kaki di Kota Pontianak. Kalau pergi ke kota ini mungkin belum lengkap sebelum pergi ke Tugu Pahlawan, ups.. maaf Tugu Khatulistiwa maksudnya, hehe.. Kota Pontianak memang juga dikenal dengan Kota Khatulistiwa, karena di kota ini dilalui garis lintang nol derajat, oleh karena itu dintadai dengan Tugu Khatulistiwa. Dan saya juga sempat berkunjung di tempat ini.
Bicara soal kuliner, ada satu makanan yang sangat terkenal di kota ini, yaitu pengkang. Mungkin nama yang agak aneh ya, tapi rasanya jangan ditanya lagi, uenaakk poll.. sebenarnya makanan ini tak jauh beda dengan lemper dari daerah Jawa. Tapi isi dari pengkang ini adalah udang kering atau ebi. Biasanya makan pengkang ini sambil diococol dengan sambel. Wuih gurih banget pastinya..
Jika ingin makan makanan khas Pontianak ini, tempat yang terkenal adalah Pondok Pengkang di jalan raya peniti, letaknya tepat di tepi jalan raya ke arah kota Singkawang dari Pontianak. Di tempat makan ini terdapat lukisan di tembok yang mendeskripsikan orang yang sedang membuat pengkang.
Setelah Anda menikmati makanan khas Pontianak dan tenggorokan mulai haus, jangan sampai lupa juga untuk merasakan minuman khas Pontianak, yaitu minuman lidah buaya. Tanaman lidah buaya memang sangat terkenal di kota ini karena tekstur tanah yang sangat cocok untuk tanaman ini. Tanah di Pontianak merupakan tanah gambut yang terbentuk dari kumpulan sisa-sisa tumbuhan yang membusuk. Maka jangan heran jika lidah buaya disini besar sekali. Minuman ini selain segar juga mengandung zat gizi yang bagus. Minuman ini disajikan di warung-warung kecil di pinggir jalan.
Akhirnya, selamat menikmati Kota Pontianak.
Bicara soal kuliner, ada satu makanan yang sangat terkenal di kota ini, yaitu pengkang. Mungkin nama yang agak aneh ya, tapi rasanya jangan ditanya lagi, uenaakk poll.. sebenarnya makanan ini tak jauh beda dengan lemper dari daerah Jawa. Tapi isi dari pengkang ini adalah udang kering atau ebi. Biasanya makan pengkang ini sambil diococol dengan sambel. Wuih gurih banget pastinya..
Jika ingin makan makanan khas Pontianak ini, tempat yang terkenal adalah Pondok Pengkang di jalan raya peniti, letaknya tepat di tepi jalan raya ke arah kota Singkawang dari Pontianak. Di tempat makan ini terdapat lukisan di tembok yang mendeskripsikan orang yang sedang membuat pengkang.
Setelah Anda menikmati makanan khas Pontianak dan tenggorokan mulai haus, jangan sampai lupa juga untuk merasakan minuman khas Pontianak, yaitu minuman lidah buaya. Tanaman lidah buaya memang sangat terkenal di kota ini karena tekstur tanah yang sangat cocok untuk tanaman ini. Tanah di Pontianak merupakan tanah gambut yang terbentuk dari kumpulan sisa-sisa tumbuhan yang membusuk. Maka jangan heran jika lidah buaya disini besar sekali. Minuman ini selain segar juga mengandung zat gizi yang bagus. Minuman ini disajikan di warung-warung kecil di pinggir jalan.
Akhirnya, selamat menikmati Kota Pontianak.
Wednesday, October 3, 2012
KOTA KUPANG
Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di Kupang, NTT. Kupang memiliki karakteristik tersendiri, yaitu wilayah yang kering dan panas. Namun demikian, Kupang bisa menjadi salah satu tujuan tempat wisata bagi Anda.
Salah satu tempat yang bisa Anda kunjungi ketika di Kupang adalah Pantai Lasiana. Pantai Lasiana berjarak kurang 12 Km dari pusat Kota Kupang. Pantai ini bisa ditempuh dengan mobil atau angkutan umum yang biasa disebut bemo. Untuk lebih hemat, Anda bisa naik bemo saja. Dengan bemo Anda cukup membayar Rp. 2.000,- saja. Kondisi jalan di Kupang pun juga masih lengang. Jadi sekalian Anda hemat, Anda juga bisa menikmati angkutan khas Kupang. Bemo di Kupang ini juga unik, penuh tempelan-tempelan yang menghiasi seluruh body mobil dan full music. Sebelum naik bemo, Anda pesan dulu ke sopir atau kernetnya untuk minta turun di Pantai Lasiana, supaya tidak kebablasan, hehe..
Setelah turun dari bemo, Anda bisa jalan sekitar 500 m atau naik ojek ke lokasi Pantai Lasiana. Sesampainya di Pantai Lasiana, Anda bisa menikmati keindahan, keunikan dan kesejukan pantai. Laut biru bersih terpampang luas. Hamparan pasir putih memecah ombak-ombak kecil di pinggir pantai. Dan yang membuat unik pantai ini adalah terdapatnya pohon lontar yang menjulang tinggi dan meneduhkan. Di jalan menuju pantai ini Anda dapat melihat penduduk sekitar membuat gula lempeng khas penduduk NTT. Gula lempeng dibuat dari air sadapan pohon lontar. Disini Anda juga bisa melihat sunrise dan sunset. Namun sayang pantai ini terlihat kurang terawat. Meskipun begitu, Pantai Lasiana tetap mempesona.
Setelah dari Pantai Lasiana, Anda juga bisa menikmati Pantai Ketapang atau Teluk Kupang. Teluk Kupang ini berada di Kota Kupang dan tepat berada di sebelah jalan raya. Jika sore hari, banyak warga sekitar yang datang di teluk ini untuk sekedar menikmati senja sore hari.
Ketika Anda di Kupang dan malam sudah tiba, jangan sampai Anda lewatkan untuk datang di pasar malam. Ya, “pasar malam” begitu warga lokal menyebut namanya. Tapi jangan salah jika di pasar malam ini tidak ada komedi putar, bianglala, kereta-keretaan dan permainan lainnya. Namun pasar malam ini adalah pasar yang khusus menjajakan makanan. Pasar malam ini terletak di Jalan Garuda setiap hari mulai jam 18.00 WITA sampai tengah malam. Jadi pasar malam ini menutup sepanjang jalan penuh. Jika datang ke pasar malam ini, Anda bisa ber-kuliner ria. Anda bisa menikmati sea food. Anda juga jangan kaget jika mendengar bahasa Jawa di pasar malam ini karena sebagian besar penjual di pasar malam ini adalah orang Jawa.
Setelah menikmati keindahan alam dan kuliner di Kupang, sebelum pulang Anda jangan lupa membawa oleh-oleh khas NTT. Jika Anda ingin membawa oleh-oleh yang halal, Anda dapat membelinya di Toko Ibu Soekiran di Jl. Moh. Hatta No. 16, Kupang. Walau sederhana tapi toko ini lengkap dan banyak dikunjungi wisatawan untuk membeli oleh-oleh atau warga sekitar untuk lauk pauk sehari-hari. Di toko ini Anda dapat membeli makanan khas NTT seperti se’i daging sapi, dendeng daging sapi, abon daging sapi, kripik paru sapi, jagung niti dan lain-lain.
Memang banga Indonesia memiliki keanekaragaman alam dan kuliner. Hal ini tentu patut kita syukuri dengan melesetarikannya dengan baik.
Salah satu tempat yang bisa Anda kunjungi ketika di Kupang adalah Pantai Lasiana. Pantai Lasiana berjarak kurang 12 Km dari pusat Kota Kupang. Pantai ini bisa ditempuh dengan mobil atau angkutan umum yang biasa disebut bemo. Untuk lebih hemat, Anda bisa naik bemo saja. Dengan bemo Anda cukup membayar Rp. 2.000,- saja. Kondisi jalan di Kupang pun juga masih lengang. Jadi sekalian Anda hemat, Anda juga bisa menikmati angkutan khas Kupang. Bemo di Kupang ini juga unik, penuh tempelan-tempelan yang menghiasi seluruh body mobil dan full music. Sebelum naik bemo, Anda pesan dulu ke sopir atau kernetnya untuk minta turun di Pantai Lasiana, supaya tidak kebablasan, hehe..
Setelah turun dari bemo, Anda bisa jalan sekitar 500 m atau naik ojek ke lokasi Pantai Lasiana. Sesampainya di Pantai Lasiana, Anda bisa menikmati keindahan, keunikan dan kesejukan pantai. Laut biru bersih terpampang luas. Hamparan pasir putih memecah ombak-ombak kecil di pinggir pantai. Dan yang membuat unik pantai ini adalah terdapatnya pohon lontar yang menjulang tinggi dan meneduhkan. Di jalan menuju pantai ini Anda dapat melihat penduduk sekitar membuat gula lempeng khas penduduk NTT. Gula lempeng dibuat dari air sadapan pohon lontar. Disini Anda juga bisa melihat sunrise dan sunset. Namun sayang pantai ini terlihat kurang terawat. Meskipun begitu, Pantai Lasiana tetap mempesona.
Setelah dari Pantai Lasiana, Anda juga bisa menikmati Pantai Ketapang atau Teluk Kupang. Teluk Kupang ini berada di Kota Kupang dan tepat berada di sebelah jalan raya. Jika sore hari, banyak warga sekitar yang datang di teluk ini untuk sekedar menikmati senja sore hari.
Ketika Anda di Kupang dan malam sudah tiba, jangan sampai Anda lewatkan untuk datang di pasar malam. Ya, “pasar malam” begitu warga lokal menyebut namanya. Tapi jangan salah jika di pasar malam ini tidak ada komedi putar, bianglala, kereta-keretaan dan permainan lainnya. Namun pasar malam ini adalah pasar yang khusus menjajakan makanan. Pasar malam ini terletak di Jalan Garuda setiap hari mulai jam 18.00 WITA sampai tengah malam. Jadi pasar malam ini menutup sepanjang jalan penuh. Jika datang ke pasar malam ini, Anda bisa ber-kuliner ria. Anda bisa menikmati sea food. Anda juga jangan kaget jika mendengar bahasa Jawa di pasar malam ini karena sebagian besar penjual di pasar malam ini adalah orang Jawa.
Setelah menikmati keindahan alam dan kuliner di Kupang, sebelum pulang Anda jangan lupa membawa oleh-oleh khas NTT. Jika Anda ingin membawa oleh-oleh yang halal, Anda dapat membelinya di Toko Ibu Soekiran di Jl. Moh. Hatta No. 16, Kupang. Walau sederhana tapi toko ini lengkap dan banyak dikunjungi wisatawan untuk membeli oleh-oleh atau warga sekitar untuk lauk pauk sehari-hari. Di toko ini Anda dapat membeli makanan khas NTT seperti se’i daging sapi, dendeng daging sapi, abon daging sapi, kripik paru sapi, jagung niti dan lain-lain.
Memang banga Indonesia memiliki keanekaragaman alam dan kuliner. Hal ini tentu patut kita syukuri dengan melesetarikannya dengan baik.
Wednesday, September 26, 2012
KOTA MEDAN
Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu saya sempat menginjakkan kaki di Kota Medan. Kota Medan dapat ditempuh sekitar 2 jam lebih perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta ke Bandara Internasional Polonia, Medan. Banadara internasional ini unik karena terletak di tengah kota berbeda dengan bandara-bandara lain yang ada di Indonesia.
Selimut gelap malam mulai terselingkap. Sinar mentari pun mulai membangunkan aktivitas kota. Lalu lalang kendaraan mulai memenuhi badan jalan. Pagi itu pun saya lebih memilih jalan kaki menelusuri beberapa ruas jalan Kota Medan. Memang sungguh luar biasa akan hiruk pikuknya Kota Medan. Kegiatan ekonomi, sosial, agama serta budaya, yang tidak hanya melibatkan satu etnis saja tapi multietnis yang bersatu padu membentuk sebuah ekosistem yang saling berkait. Masing-masing memiliki peranan dan fungsinya dalam membentuk struktur dan sistem kota.
Salah satu hal yang membuat saya tertarik di Kota Medan adalah banyak dijumpai bangunan ruko-ruko tua yang tegak berdiri di kanan-kiri sepanjang ruas jalan yang masih berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu untuk tempat tinggal dan tentunya untuk berdagang. Ketika kita melintas di sepanjang jalan bangunan-bangunan kuno ini seakan kita masuk dalam lorong waktu dan kembali ke masa lalu, wah lebay ya, hehe. Memang sangat unik. Hal ini tentu perlu tetap dilestarikan sebagai urban heritage yang sangat memungkinkan untuk dapat menarik minat wisatawan.
Berdasarkan sejarah, Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590. John Anderson, orang Eropa pertama yang mengunjungi Deli pada tahun 1833 menemukan sebuah kampung yang bernama Medan. Kampung ini berpenduduk 200 orang dan dinyatakan sebagai tempat kediaman Sultan Deli. Pada tahun 1883, Medan telah menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran.
Setelah mendokumentasikan ruko-ruko tua, akhirnya saya melanjutnya perjalanan saya di Kota Medan dengan kendaraan khas Kota Medan, “bentor” alias becak motor. Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Masjid Raya Medan.
Berdasarkan sejarah, masjid ini dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909. Gaya arsitekturnya khas Timur Tengah, India dan Spanyol. Masjid ini berbentuk segi delapan dengan atap berwarna hitam. Masjid ini kelihatan sangat unik dan menarik. Sungguh luar biasa!
Tak jauh dari Masjid Raya Medan ini, terdapat Istana Maimun. Berdasarkan sejarah, istana ini dibangun oleh Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada tahun 1888. Istana ini memiliki arsitektur melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia. Istana Maimun didominasi dengan warna kuning, warna khas melayu. Istana ini memiliki 2 lantai. Sayang pada waktu saya datang kesini masih tutup karena masih pagi sehingga tidak bisa masuk ke dalam. Istana ini terbuka untuk umum setiap hari jam 08.00 – 17.00. Jadi kalau Anda datang ke Kota Medan jangan sampai lupa datang ke Istana Maimun ini.
Sebelum meninggalkan Kota Medan, jangan sampai lupa membawa oleh-oleh khas Kota Medan, Bika Ambon Zulaikha yang ada di Jl. Majapahit No. 62 dan Bolu Meranti di Jl. Kruing No. 2-K. Dan juga kalau lagi musimmnya jangan sampai lupa makan durian Medan yang banyak dijual di pinggir jalan pada malam hari sambil bercengkerama. Nikmat banget deh pokoknya.
Memang hebatnya kualitas bangunan kuno yang pernah ada menunjukkan salah satu ciri tingginya peradaban bangsa Indonesia. Kita sebagai generasi penerus sudah selayaknya menjaga warisan yang sangat luar biasa tersebut, terlebih kita juga harus bisa meneladani setiap hikmah yang terkandung dibalik dinding bangunan-bangunan tersebut.
Selimut gelap malam mulai terselingkap. Sinar mentari pun mulai membangunkan aktivitas kota. Lalu lalang kendaraan mulai memenuhi badan jalan. Pagi itu pun saya lebih memilih jalan kaki menelusuri beberapa ruas jalan Kota Medan. Memang sungguh luar biasa akan hiruk pikuknya Kota Medan. Kegiatan ekonomi, sosial, agama serta budaya, yang tidak hanya melibatkan satu etnis saja tapi multietnis yang bersatu padu membentuk sebuah ekosistem yang saling berkait. Masing-masing memiliki peranan dan fungsinya dalam membentuk struktur dan sistem kota.
Salah satu hal yang membuat saya tertarik di Kota Medan adalah banyak dijumpai bangunan ruko-ruko tua yang tegak berdiri di kanan-kiri sepanjang ruas jalan yang masih berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu untuk tempat tinggal dan tentunya untuk berdagang. Ketika kita melintas di sepanjang jalan bangunan-bangunan kuno ini seakan kita masuk dalam lorong waktu dan kembali ke masa lalu, wah lebay ya, hehe. Memang sangat unik. Hal ini tentu perlu tetap dilestarikan sebagai urban heritage yang sangat memungkinkan untuk dapat menarik minat wisatawan.
Berdasarkan sejarah, Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590. John Anderson, orang Eropa pertama yang mengunjungi Deli pada tahun 1833 menemukan sebuah kampung yang bernama Medan. Kampung ini berpenduduk 200 orang dan dinyatakan sebagai tempat kediaman Sultan Deli. Pada tahun 1883, Medan telah menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran.
Setelah mendokumentasikan ruko-ruko tua, akhirnya saya melanjutnya perjalanan saya di Kota Medan dengan kendaraan khas Kota Medan, “bentor” alias becak motor. Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Masjid Raya Medan.
Berdasarkan sejarah, masjid ini dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909. Gaya arsitekturnya khas Timur Tengah, India dan Spanyol. Masjid ini berbentuk segi delapan dengan atap berwarna hitam. Masjid ini kelihatan sangat unik dan menarik. Sungguh luar biasa!
Tak jauh dari Masjid Raya Medan ini, terdapat Istana Maimun. Berdasarkan sejarah, istana ini dibangun oleh Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada tahun 1888. Istana ini memiliki arsitektur melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia. Istana Maimun didominasi dengan warna kuning, warna khas melayu. Istana ini memiliki 2 lantai. Sayang pada waktu saya datang kesini masih tutup karena masih pagi sehingga tidak bisa masuk ke dalam. Istana ini terbuka untuk umum setiap hari jam 08.00 – 17.00. Jadi kalau Anda datang ke Kota Medan jangan sampai lupa datang ke Istana Maimun ini.
Sebelum meninggalkan Kota Medan, jangan sampai lupa membawa oleh-oleh khas Kota Medan, Bika Ambon Zulaikha yang ada di Jl. Majapahit No. 62 dan Bolu Meranti di Jl. Kruing No. 2-K. Dan juga kalau lagi musimmnya jangan sampai lupa makan durian Medan yang banyak dijual di pinggir jalan pada malam hari sambil bercengkerama. Nikmat banget deh pokoknya.
Memang hebatnya kualitas bangunan kuno yang pernah ada menunjukkan salah satu ciri tingginya peradaban bangsa Indonesia. Kita sebagai generasi penerus sudah selayaknya menjaga warisan yang sangat luar biasa tersebut, terlebih kita juga harus bisa meneladani setiap hikmah yang terkandung dibalik dinding bangunan-bangunan tersebut.
Wednesday, August 15, 2012
KOTA MANADO & WISATA BUNAKEN
Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu saya sempat ke Kota Manado, ibu kota dari Provinsi Sulawesi Utara. Kota Manado terletak di ujung utara Pulau Sulawesi. Kota Manado dapat ditempuh dengan waktu 3,5 jam perjalanan dari Jakarta dengan menggunakan pesawat terbang.
Kota Manado sangat terkenal dengan Bunaken. Ada yang bilang “Belum pernah ke Manado kalau belum ke Bunaken.” Ya, Bunaken. Siapa yang belum pernah dengar Bunaken? Bunaken merupakan sebuah pulau di Kota Manado yang terkenal dengan taman lautnya yang berada di sekitar pulau tersebut dan merupakan bagian dari Taman Nasional Bunaken. Bunaken sangat cocok untuk snorkling atau menyelam. Bunaken memiliki pemandangan bawah laut yang sungguh sangat luar biasa, air laut yang jernih dimana sinar sang mentari bisa menembus hingga ke lekukan-lekukan terumbu karang di dasar laut yang dangkal, ikan warna-warni pun bergoyang-goyang bak penari dengan penuh keriangan menikmati indahnya alam. Subhanallah.. Sungguh luar biasa.
Bila ingin ke Bunaken, pastikan pada waktu yang tepat, yaitu jangan pada musim hujan. Jika Anda kesana pada musim hujan maka bisa jadi niat Anda tinggal kenangan saja karena penyeberangan ke Bunaken tergantung pada cuaca. Jika cuaca buruk maka kapal-kapal tidak berani menyeberanga kesana. Alhamdulillah waktu saya kesana cuaca sedang bersahabat. Ada banyak alternatif untuk menyeberang ke Bunaken karena ada banyak pelabuhan yang memberikan pelayanan penyeberangan kesana.
Setelah semuanya siap, Anda naik kapal dan akan dipandu oleh nahkoda kapal untuk menuju titik-titik yang dapat digunakan untuk snorkling, biasanya yang arusnya tidak deras, terdapat banyak terumbu karang dan ikan warna-warni, serta tentunya yang dangkal.
Blurrr...!!!! Akhirnya petualangan snorkling Anda dimulai. Sensasi snorkling hanya dapat Anda rasakan sendiri tanpa dapat diungkapkan dengan kata-kata, hehe..
Subhanallah.. Memang luar biasa! Inilah salah satu keindahan alam Indonesia yang harus kita syukuri dan kita berdayakan untuk kemaslahatan semuanya.
Kota Manado sangat terkenal dengan Bunaken. Ada yang bilang “Belum pernah ke Manado kalau belum ke Bunaken.” Ya, Bunaken. Siapa yang belum pernah dengar Bunaken? Bunaken merupakan sebuah pulau di Kota Manado yang terkenal dengan taman lautnya yang berada di sekitar pulau tersebut dan merupakan bagian dari Taman Nasional Bunaken. Bunaken sangat cocok untuk snorkling atau menyelam. Bunaken memiliki pemandangan bawah laut yang sungguh sangat luar biasa, air laut yang jernih dimana sinar sang mentari bisa menembus hingga ke lekukan-lekukan terumbu karang di dasar laut yang dangkal, ikan warna-warni pun bergoyang-goyang bak penari dengan penuh keriangan menikmati indahnya alam. Subhanallah.. Sungguh luar biasa.
Bila ingin ke Bunaken, pastikan pada waktu yang tepat, yaitu jangan pada musim hujan. Jika Anda kesana pada musim hujan maka bisa jadi niat Anda tinggal kenangan saja karena penyeberangan ke Bunaken tergantung pada cuaca. Jika cuaca buruk maka kapal-kapal tidak berani menyeberanga kesana. Alhamdulillah waktu saya kesana cuaca sedang bersahabat. Ada banyak alternatif untuk menyeberang ke Bunaken karena ada banyak pelabuhan yang memberikan pelayanan penyeberangan kesana.
Setelah semuanya siap, Anda naik kapal dan akan dipandu oleh nahkoda kapal untuk menuju titik-titik yang dapat digunakan untuk snorkling, biasanya yang arusnya tidak deras, terdapat banyak terumbu karang dan ikan warna-warni, serta tentunya yang dangkal.
Blurrr...!!!! Akhirnya petualangan snorkling Anda dimulai. Sensasi snorkling hanya dapat Anda rasakan sendiri tanpa dapat diungkapkan dengan kata-kata, hehe..
Subhanallah.. Memang luar biasa! Inilah salah satu keindahan alam Indonesia yang harus kita syukuri dan kita berdayakan untuk kemaslahatan semuanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)












